Pages

Tuesday, August 14, 2012

Ilusi Fiksi

Pada kenyataannya aku cuma gadis SMA biasa, yang mendengarkan lagu galau ditemani sebotol pepsi blue di sisi kiriku, memikirkan soal cinta dan hal bodoh lainnya. Hari pertama liburan, dan aku justru terserang sindrom anak muda di tahun 2012 ini; galau.

Malam yang dingin di Jogja, seperti biasanya. Aku tak sempat melihat keluar, tapi aku yakin bahwa langit Jogja malam ini sangat jernih, kau pasti bisa melihat bintang dari luar halaman rumahmu. Tapi aku, aku akan lebih senang dengan menggeliat di kamar kakakku dengan sebuah buku berhalaman ribuan, bergenre fantasi; yeah, another masterpiece from Rick Riordan of course. Taro masih terisi separuh di sisi kananku, di kiriku sebotol pepsi blue yang masih dingin menunggu untuk segera diminum saat tenggorokanku mulai kering.

Kulirik buku 'Berjuta Rasanya' karangan Tere Liye yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur. Dan perlahan kubuka kembali bab dua yang sudah kubaca malam sebelumnya. Judul yang cukup lucu 'Hiks, kupikir kau naksir aku.' Tapi cukup mengena.
"Orang-orang yang sedang jatuh cinta kadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri.Ia tak kuasa lagi membedakan mana yg benar-benar nyata, mana yg hasil kreasi hatinya yg sedang memendam rindu."
 Sial.

Dua kalimat ini sungguh menghantuiku. Teringat lagi sosok senior yang baik hati itu. Yang nyaris ramah pada semua orang, tapi menyebalkan padaku. Yang dengan teganya menerbangkanku, habis-habisan.

Senior itu menyapaku cantik pada kali pertama ia mengenalku. Aneh? Ya. Aku hampir menabrakan kepalaku ke tembok saat itu. Kali kedua, ia menggabung-gabungkan namanya dengan namaku. Ia memberiku sepotong kertas berbentuk hati biru saat sedang bekerja kelompok bersama. Namun tiba-tiba berkata; "Kamu kok sok mesra sih?"

Cih.

Aku kesal luar biasa. Aku marah padanya dan ia tidak sadar.

Lalu kemudian, ia bilang hal yang sama untuk kedua kalinya.  Aku muntab luar biasa. Dan apa yang ia lakukan? Tidak ada. Astaga, aku ingin mencekiknya saat itu juga.

Namun selang beberapa lama, aku mulai memperhatikannya dari kejauhan. Kesal? Iya. Tapi sosoknya benar-benar menarik perhatian mataku. Hei, salahkan mataku! Bukan aku!

Dan saat goncangan sangat hebat melandaku, aku menangis. Ada beberapa senior yang ikut mendengarkan disana. Termasuk dia. Dan temanku, dengan sembrononya menyuruh senior menyebalkan ini mengantarku pulang. Pertama aku agak ragu. Tapi akhirnya aku pergi juga.

Kali kedua aku diboncengnya.

Iya, banyak sekali yang melirik kami berjalan saat itu. Aneh? Iya. Aku kacau sekali saat itu. Masih dengan mata sembab dan rambut berantakan. Ia berjalan disampingku. Kadang terlalu cepat, tapi saat aku berhenti, ia akan ikut berhenti. Menggelikan? Sekali lagi, iya.

Esoknya, banyak sekali yang menggodaku karena hal ini. Aku santai saja. Toh tidak terjadi apapun. Tapi kemudian ia menyapaku. Kali ini dengan cara yang aku yakin berbeda. Sangat. Berbeda.

Siang itu aku mempersiapkan sebuah acara dengan aku sebagai ketuanya. Aku lewat tempat yang memang sering ia muncul. Tidak. Aku bukannya sengaja. Tapi aku memang harus lewat situ kalau aku tidak mau malu dengan baju merah menyalaku (jalannya lebih dekat dengan tempat acara). Aku mulai berjalan. Menunduk.

Well, sekedar informasi, hari sebelumnya aku sempat berjalan bersamanya melewati tempat itu, accidentally ketemu tentu saja, dan lihat, banyak sekali yang menggodaku. Karena itu untuk kali kedua, aku memilih menunduk.

Kembali ke perjalananku. Aku menunduk. Dan sial, disaat rambutku sedang jelek dan aku melepas bandoku, ia justru ada di sana, tepat di depanku. Aku kembali menunduk, kini berjalan cepat. Super cepat.

Dan kau tahu apa hal bodoh dalam sapaan ini? Ia bersiul. Yea. BERSIUL. Kurang kacau apa lagi? Ia bersiul memanggilku. Aku saat itu berpikir ini pasti orang iseng, jadi  aku kembali berjalan cepat. Tapi kemudian ia memanggil namaku, membuatku menoleh, kaget (sebenarnya sangat kaget). Aku menanyakan kenapa ia memanggilku dengan siul-siul aneh seperti tadi? Ia justru nyengir dan berkata 'Pengen aja,' Tapi hal itu cukup membuatku berpaling, dan sialnya menjadi sangat bersemangat hari itu.

Masih pada hari yang sama, ia kembali nyengir saat memergokiku sedang berjalan bersama seorang junior laki-laki. Itu sungguh kebetulan aku bertemu dengannya, tapi sial sungguh sial, senior itu malah melihatnya, ditambah lagi bersama seorang sahabat perempuannya (you can insert heartbreak background sound, here). Ia nyengir, lagi.

Dan itu mengakhiri hari itu.

Aku terpaku pada ilusi yang kubuat sendiri. Aku harus melupakan senior itu mau tidak mau. Aku tidak mau terjebak pada ilusi itu sendiri. Dan yang kulakukan sekarang, mendengar lagu Waiting - Endah n' Rhesa yang benar-benar cocok untuk saat ini. Yah, part "I am not the only one who adore you anyway. But I will keep in on my secret place," itu, really fit in, isn't ?

Aku hanya gadis SMA biasa, yang nggalau dan menulis cerpen sendiri di depan laptopnya sekarang.

No comments:

Post a Comment

Leave your footsteps here.