Pages

Saturday, April 20, 2013

Berani Bermimpi.

Berdasarkan tweet ini, aku membuat sebuah coretan kecil untuk adik-adik kelas SMPku, semoga bisa memotivasi.

oOo
Kau pernah bermimpi?

Hampir semua orang di bumi ini punya mimpi. 
Bahkan semua mahkluk. 
Mimpi hujan akan turun. Mimpi akan mendapatkan tulang yang lezat untuk makan malam. Mimpi akan menjadi pahlawan, kelak. Mimpi akan mendapatkan nilai ulangan yang bagus. Mimpi akan mendapatkan pasangan hidup yang mapan.


Banyak mimpi berterbangan di udara. Tiap detiknya ada ribuan orang yang bermimpi di luar sana.

Termasuk aku.

Juli 2010. Aku resmi menjadi siswa kelas 9 SMP Negeri 15 Yogyakarta. Kini aku harus merangkai salah satu mimpi untuk masa depanku kelak; mau lanjut sekolah dimana aku?


Orang tua mulai bertutur pasrah. Tak masalah katanya aku mau lanjut sekolah dimanapun. Menilik keadaanku, aku bersekolah di SMP yang peringkat akademisnya (pada tahun tersebut) kira-kira ranking 2 terendah di Yogyakarta, atau  mungkin yang paling rendah. Tak taulah. Yang jelas SMPku bukan SMP favorit.

Banyak bibir yang mulai mengucapkan kata-kata pematah semangat. Omong kosong bertebaran di sekitar telingaku. Mereka bilang, aku lebih baik mendaftar di sekolah swasta saja--jangan bermimpi akan dapat NEM cukup tinggi untuk masuk SMA Negeri, atau jangan bermimpi terlalu tinggi untuk lanjut sekolah di SMA favorit di Yogyakarta.

Persetan.

Untuk kalian yang dulu pernah berusaha mematahkan mimpiku; teman sebaya, orang yang lebih tua, atau yang paling parah; guru, saat kalian membaca ini, aku harap kalian malu dengan jiwa pesimis yang kalian bangun dan yang dengan teganya kalian sebarkan ke orang-orang di sekitar kalian.

Aku adalah salah satu pemimpi yang dengan berani meludahi omong kosong kalian tentang melupakan mimpiku. Aku menginjak rasionalitas kalian yang tidak berdasar. Aku punya semangat yang cukup berapi-api untuk membakar argumen kalian yang berujung pada satu kesimpulan bahwa aku tidak cukup pintar.  

Aku percaya pada doa dan usaha. Aku berdoa. Aku berusaha. Aku beriman, lalu aku lakukan segala bagian terbaik yang bisa aku lakukan, dan sisanya aku serahkan kepada-Nya yang membuatnya sempurna.

Januari 2011. Aku bulat bertekad masuk SMA Negeri 3 Padmanaba.

Berarti harus siap untuk belajar lebih mati-matian dibanding anak-anak SMP favorit di luar sana; dari Yogyakarta, atau luar Yogya. Karena SMA 3 itu SMA favorit. Biasanya yang sudah diterima disana hanya akan menolak masuk jika sudah diterima di Taruna Nusantara atau sekolah keren lainnya. Rata-rata nilai NEM untuk masuk sana tertinggi di Yogyakarta. Rata-rata harus 9,5 keatas.

Aku bermimpi. Tiap hari aku pasang nama itu di benakku. Kakak sulungkulah yang menjadi penopangku disini. Kakak yang paling memberikan contoh terbaik (sekaligus tekanan yang luar biasa karenanya) di hidup kami (ketiga adiknya), alumni SMP 8 / Bhawara (SMP favorit), Alumni Padmanaba, angkatan ke 58, masuk ITB dengan mimpi yang besar, lalu kini bergelut dengan pekerjaannya dan menyerahkan hidupnya penuh dalam rencana Tuhan.

Ia bilang aku pasti bisa, ia bilang aku tidak bodoh. Ia bilang asal aku berusaha dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan, aku pasti bisa. Aku hampir menangis saat kemudian kakak kedua, ketiga dan orangtuaku lalu berujar hal yang sama; aku pasti bisa.

Aku memasang bendera perang kepada kumpulan alasan tidak mungkin. Aku mempunyai keluarga seorang pekerja keras. Ditinggal orang tua dan tinggal jauh dari keluarga sejak kelas 1 SMP membuatku mempunyai sikap yang sama. Sikap pejuang.

Aku berjuang melawan ketidakmungkinan. Melawan keraguan. Ini salah satu mimpi terbesarku di 14 tahun aku hidup; mimpi yang harus aku perjuangkan habis-habisan.

Hari penguman hasil ujian NEM. Kali ini aku benar-benar menangis. Kakakku memelukku. Katanya aku rangking pertama di SMPku. Aku menangis. Bersyukur. Berterimakasih kepada Tuhan karena aku punya kakak yang hebat--dan perasaan berani yang cukup untuk menendang ucapan skeptis orang-orang di luar sana.

19 April 2013.

Aku Mesabia Pramudhita Modouw ; Sasha, PAD/12697/11.
Ini tahun keduaku di SMA 3. Kini aku berdoa, salah satu adik kelasku ada yang mempunyai keberanian yang sama untuk menentang kata-kata tidak mungkin hanya karena kita ada di SMP yang tidak favorit.

Aku berdoa ada salah satu adik kelasku yang menyusulku, atau menyusul kami dari angkatan 2011; Shinta Sigit Agustina (SMA Negeri 1 Teladan), Ahmad Fikril (SMA Negeri 1 Teladan), Mujayudi NurAdhitya Danukusuma (SMA Negeri 1 Teladan), Ghania Ukasyah L. (SMA Negeri 8 Yogyakarta)

Selamat berjuang! Aku menulis ini untuk semangat kalian menyambut UN SMP yang sudah di depan mata. Hari-hari yang tersisa ini, gunakan waktumu dengan baik :)


Untuk kalian yang merasa ada di bawah, jangan ragu untuk bermimpi. Seperti petuah klasik; selalu ada jalan saat ada kemauan.

Posting kali ini terkhusus buat adik-adik SMP 15. Aku bukanlah alumni terbaik kalian--jelas bukan. Saat masuk SMA 3 pun aku masih harus sangat berjuang dengan nilai akademis yang tinggi, (sekalipun itu salahku sendiri yang memilih banyak kegiatan saat masuk SMA, tapi biarlah, hidup itu pilihan, ini tanggung jawab yang harus kuambil) aku percaya kalian bisa jauh lebih hebat dari pada alumni yang paling hebat sekalipun, saat kalian bermimpi dan berjuang lebih hebat lagi!


Btw, buat Bu Guru BK yang bilang saya mending nggak usah kebanyakan mimpi itu, saya belum bilang ke Ibu kalo saya udah masuk Padz, Bu. Semoga Ibu baca ini ya, dan semoga Ibu malu sendiri :"
photo credits: weheartit

No comments:

Post a Comment

Leave your footsteps here.