Pages

Friday, October 31, 2014

Waktu.

Waktu.

Waktu itu yang membuat manusia itu nyata. Tanpa satuan waktu, tidak ada yang tahu ada dimana kita, keberadaan kita, wujud kita--semua menjadi semu tanpa waktu.
Waktu adalah hal yang satu-satunya konstan. Akan terus berjalan tanpa dapat dipercepat atau diputar kembali.

Waktu itu layaknya hutang; diberikan kepada kita, dan akan kita kembalikan lagi suatu hari nanti.
Akan ada waktu dimana kita belajar mengenal kasih sayang orang tua, belajar berinteraksi dengan manusia-manusia lain, belajar apa itu bahagia dan apa itu sedih.

Akan ada waktu dimana kita mulai agak besar, mulai menenal kalau cara mendapatkan kebahagiaan dan cara menghindari sedih. Waktu dimana pensil dan kertas adalah asisten sehari-hari. Waktu dimana orang tua yang biasa menimang kita mulai melonggarkan segala aturan dan perlahan membangun doa akan kemandirian kita.

Akan ada waktu juga dimana kita tidak hanya akan memikirkan apa yang kita alami sekarang. Kita mulai mencoba meramal apa yang terjadi di waktu yang akan datang. Waktu yang tidak kita ketahui. Waktu yang terasa semu, maya, menyeramkan sekaligus membuat penasaran dan tidak sabaran untuk segera berada di dalamnya. Kita sudah mulai berani bermimpi.

 "Ingin jadi dokter, Bu,"
 "Ingin jadi insinyur, masuk FTTM ITB!"
 "Ingin jadi istri idaman, Pak,"
 "Saya sih pinginnya jadi pengusaha sukses, Bu!"
 "Kalau saya ingin biayain Ibu untuk Ibadah Haji, Mas," 
"Saya pingin punya anak kembar yang patuh sama saya dan istri,"
 "Saya ingin dikuburkan bersebelahan dengan pasangan hidup saya, dek."

Kita mulai lancang--Berandai; bermimpi akan sesuatu diluar kuasa kita. 

Mungkin sebagai orang asing, sebagai orang yang tidak ada dalam tiap detik harimu, orang yang hanya bisa memandangmu tersenyum atau berusaha membuat teman-temanmu yang lain tersenyum, aku, orang asing ini tahu bahwa mimpimu pastilah besar dan mulia. Mimpi yang kau junjung dengan usaha dan kasih sayang itu.

Tidak, tidak bisa disayangkan. Tidak bisa disayangkan bahwa kita, orang-orang asing ini tidak dapat melihat hasil dari segala mimpimu. Tidak, sungguh tidak. Karena kamu justru sudah menjalani sesuatu yang jauh lebih besar dari itu semua. Kamu menjalani sesuatu yang kami sebut semu itu. Waktu yang tidak kami ketahui. Waktu dimana Sang Kuasalah yang akan berdiri di dekatmu menuntun masamu; waktumu. 

Karena waktumu tidak lagi dapat kami ukur. Waktumu tidak dapat lagi kami ukur dengan akal manusia kami. Hanya doa kami saja yang dapat kami panjatkan untuk untaian waktumu itu. Hanya segala pertanyaan, harapan dan kasih melalui doa saja yang bisa kami katakan. Kami tahu, Sang Kuasa ada disana bersamamu. Dan segala waktumu sudah dipegang olehNya, untuk rancanganNya yang sempurna.   

Pada akhirnya kami hanya percaya, bahwa rancanganNya bukanlah rancangan kecelakaan melainkan damai sejahtera.

Selamat jalan adik, saudara, sahabat kami tercinta Luthfi Ufairoh. Sungguh kami bersyukur atas setiap jam, menit, detik, yang sudah boleh dianugerahkan untuk kami semua bersamamu. Semoga Tuhan memberkatimu dan menguatkan keluargamu, Luthfi.




No comments:

Post a Comment

Leave your footsteps here.